Wahai manusia, pahamilah ! perintah Allah ini :
“FA’LAM FALQOLBU QOLBANI QOLBUSH SHONUUBARI DZULMANIYUN WAL QOLBU MA’NA WIYYU NUURAIYYUN”. Allah Brfirman : Wahai manusia kamu semua mengertilah ! wujud hati manusia itu ada dua :
1. Hati sanubari, sifatnya gelap merupakan kerajaan nafsu, yang menjadi anak buahnya setan. Semua manusia, pahamilah : “’ALAMU NAFSI DHULMATUN MAHDHUUN” Alamnya nafsu satu saja melebihi gelapnya di dunia ini, jika nafsu tujuh itu dilakukan semua berarti bertempat di kegelapan disebut tersesat dalam gelap tujuh hari tujuh malam. Jika bertindak demikian berarti hanya menuruti senangnya sendiri, berarti tidak mentaati perintah Allah dan tidak taat kepada perintahnya pemerintahan (peraturan pemerintah). Jika demikian ini, untuk menghilangkannya hanyalah ilmu tauhid. Misalnya gelap, guna menghilangkan kegelapan hanya tauhid, yang terangnya ilmu tauhid itu melebihi terangnya di siang hari.
2. Hati ma’nawi, yang sifat keadaannya terang bertempat di tengah-tengah dada diatas tali pusar yaitu hati tempat YUK Minuuna Bil Ghoibi, percaya pada maksud kalimah isim ghoib (Hu). Disebut oleh Allah : qol bul mukminin baitullah yaitu hatinya orang mukmin adalah rumahnya Allah. Jika sudah mengerti, maka senantiasa mengekalkan qul HU.
Dan kamu sekalian mengertilah ! : bahwa semua manusia yang percaya pada maksud isim ghoib (Hu).
“YUKMINUUNA BILGHOIBI”. Jika orang laki-laki percaya pada maksud isim ghoib dinamakan mukmin laki-laki. Jika seorang perempuan yang percaya pada maksud isim ghoib dinamakan mukmin perempuan. Adapun jika tidak percaya maka disebut muslimin dan muslimat begitu saja. Tetapi jika seoarang mukmin pasti muslim, sebaliknya seorang muslim belum tentu kalau mukmin. Allah Berfirman : “QOLBUL MUKMINIINA BAITULLAH”. Allah berkata bahwa hatinya orang mukmin itu rumahnya Allah, artinya hati tempat membuktikan adanya Tuhan. Dzat tuhan (Rabbi) namanya Allah, maka Allah disebut Isim Dzat (isim artinya nama dan dzat artinya wujud (‘gleger= jawa). Adapun yang memiliki wujud gleger itu Tuhan (Rabbi) yaitu maksudnya Isim Ghoib. Allah Berfirman didalam Al-Qur’an : “INNALLOHA MA’AANAA AINAMAA KUNTA”. Allah memberikan perintah bahwa Allah itu bersatu tempat dengan Rasa kamu, dimana saja kamu berada, tetapi bukan beradanya badan ini. Tetapi sebenarnya kekalnya masuk nafas disertai Qul Hu berarti kekal nafas selalu disertai maksud kalimah Hu, disubut kekal dalam muhung tauhid (yang diingat hanya dzat wajibul wujud/dzat yang sebenarnya wujud). Firman Allah yang demikian ini, Sayyidina Ali berkata pada Rasulullah : Ya Rasulullah ! Sebenarnya bersatunya Rabbi dengan Rasa manusia itu apapkah seperti sesuatu barang dengan suatu barang ? misalnya air minum dengan gelas ? “LA LA KAMA ‘IYATISYSYAII FISYSYAII” Rasulullah brjata kepada Sayidina Ali : Yaa Ali, mengertilah sesungguhnya bersatunya Tuhan (Rabbi) dengan Rasa manusia itu, tidaklah hanya seperti bersatunya sesuatu dengan sesuatunya misalnya air minum dan gelas, tidaklah demikian. Jika dimisalkan bersatunya air minum dan gelas, maka kalau gelas itu dalam keadaan berdiri : bersatu. Akan tetapi jika gelas dimiringkan maka akan tumpah atau berpisah. Jadi tidak hanya demikian ini.
Kalau begitu bagaimana Rasulullah, sesungguhnya bersatunya Tuhan (Rabbi) dengan Rasa manusia itu? “QOOLA RASUULULLOOHI” Yaa “Ali BAL MA’IYATUHU KASHSHIFATI FIL MAUSHUUFI” Rasulullah berkata kepada Sayyidina Ali : sesungguhnya bersatunya Rabbi dengan Rasa manusia itu seperti sifat didalam musuf, misalnya kertas putih itu disebut sifat, adapun yang ditempati warna putih itu disebut musuf. Walaupun dihancurkan sebesar rambut dibelah menjadi tujuh. Sifatnya tidak akan lepas dari mausuf. Begitu sesungguhnya bersatunya Tuhan (Rabbi) dengan Rasa Manusia. Tuhan Allah memperkuat perintah : “INNAALLOOHI ‘ALAA KULLI SYAIIN MUHIITHIN”. Allah Berkata : Sesungguhnya Allah itu meliputi seluruh/segala sesuatu. Maka pahamilah, jika Rasa manusia itu senantiasa disertai maksud kalimah isim ghoib, hal itu seperti sifat didalam mausuf. Jika belum demikian ini, masih dalam keadaan menguatirkan. Maka wajibnya harus semakin serius dalam mengekalkan Qul Hu.
KEWAJIBAN MANCARI GURU WASITAH
Siapakah Guru Wasitah itu ? Dan apa syarat yang harus dimiliki oleh Guru Wasitah ?
YANG PERTAMA : Guru Wasitah adalah salah seorang manusia yang dirinya dipilih oleh Allah untuk menerangkan ilmu tauhid (maksud kalimah isim ghoib/Hu). Allah memberi perintah :
“UTHLUBUU SYAIKHOL WASITHOTA FAHUWABAYYANA ‘ILMA TAUHIDI WAINNAL KABAAROL ‘ULAMAAI WALAU BAINAKA WABAINAHU BAHRUN AU JIBAALUN NAARI MATHLUBUN”. Allah memberikan perintah bahwa : Wahai manusia, kamu semua carilah Guru Wasitah sampai bertemu, yang menjadi kunci keselamatan di dunia dan keselamatan di akherat. Bagi Allah yang dikehendaki menjadi Guru Wasitah adalah salah untuk menerangkan yang diberi wewenang untuk menerangkan ilmu tauhid (didalam disebut isim ghoib yaitu maksudnya kalimah Hu). Adapun mencari Guru Wasitah, walaupun Ulama Besar juga wajjib mencari Guru Wasitah, walaupun tempatnya Guru Wasitah dengan kita dipisahkan oleh gunung api, tetaplah wajib untuk dicari.
YANG KEDUA : Guru Wasitah yang wajib dicari, diberi oleh Allah martabat empat macam :
1. Mursidin Yaitu ilmunya tentang Islam tatas dan tuntas syare’at, toriqot, hakekat dan ma’rifat.
2. Murbihin yaitu senantiasa kekal dzikirnya atau tetap muhung tauhid atau Qul Hu.
3. Nasihin yaitu senantiasa yang dikatakan bagaimana nyawa manusia itu dapatnya selamat di dunia dan akherat.
4. Kamilin yaitu sempurna yang dituju yang disebut kembali kepada Rabbi (Kholiq) yang dinamakan isim ghoib/maksud kalimah Hu.
YANG KETIGA : Berpedoman kepada Al-Qur’an Hadist ilma’ dan qiyas. Terdapat nasehat para Ahli Winasis (‘Alim Ulama) di tanah Jawa yang berwujud Kidung (Tembang), yaitu :
Irone Qur’an mengku rasa jati
Nanging pilihta ingkang wuninga
Kejobo ngalap pituduhe wong kang mangerti
Ora kena den awur
Temahane sasar susur ora pinanggih
Lamun sira pingin mangerti ing
Sampurnane badan ira
Punika sira angge gurua
Lamun angge guru sira kaki
Milija manungsa ingkang nyato
Ing becik martabate]kang ngibadah ahli wirang
Sukur ahli topo kang anungkul tan milik ing pawewehe liyan
Sartane kawruhono
Kaweruhana dununge wong urip iki
Benjeng lamun yen palastra
Kesumo nyandi parane
Maka segeralah kita mencari Guru Wasitah. Allah memberi perintah bahwa mencari Guru Wasitah itu, menjadi gantinya Allah menuntun pada keselamatan segenap nyawa. Guru Wasitah itu sebenarnya wakil, adapun wakil itu sama artinya muwakil. Firman Allah didalam Al-Qur’an : Artinya Sesungguhnya semua manusia yang berjanji dengan Muhammad (atau wakil-wakilnya) sebenarnya yaitu Guru Wasitah, itu sesungguhnya berjanji dengan Allah, kekuasaan Allah melebihi kekuasaan semua manusia di dunia ini. Maka kamu sekalian janganlah lengah, barang siapa orang yang mengingkari (merusak) janji, maka penderitaannya akan menimpa pada diriny sandiri. Adapun barang siapa yang menepati janji Tuhan akan memberikan Warisan yang agung, yaitu ditujukan kepada sesuatunya yang belum pernah dilihat sebelumnya, yaitu ma’rifat kepada Allah dan sampai ke darul Baqo’ Darussalam : desa keselamatan juga dinamakan alam yang kekal.
Guru Wasitah pertama yaitu Nabi Adam AS. Dinakaman adam Cholifahtullah yang diberikan wewenang menuntun ilmu dan amal agar manusia lulus selamat didunia sampai di akherat. Yang menuntun manusia untuk kembali kepada Allah. Di dunia ini berasal dari Allah agar kembali lagi kepada kepada Allah. Di dunia ini manusia itu ibarat mengemara, dan sudah pasti akhirnya akan pulang lagi. “FA’LAM KAANNAKA FIDDUNYAA KALGHOORIBI SYAABILI AU KALGHOODI” Allah Berkata . wahai manusia pahamilah : kamu semua diduania ini, seperti orang yang mengembara dan sudah selayaknya akan kembali. Kembali pada asal kamu. Kalau berasal dari Allah maka agar kembali kepada Allah lagi. Allah memerintahkan kepada manusia untuk mencari Guru Wasitah, hal itu peraturan Allah, maka taatilah !
Jika sudah mengerti, akan tetapi tidak mau melaksanakan pengertiannya tadi (mengerti kalau Guru Wasitah itu wakil Allah yang sebenarnya manusia untuk kembali kepada Allah), maka menjadi golongan orang-orang yang celaka. Allah Berkata : “ASYADDUNNAASI YAUMALQIYAAMATI ‘AALIMUN LAM YANFA’UHU ‘ILMUHU. Allah berkata bahwa seberat-beratnya siksaan kepada manusia di hari qiamat, yaitu kepada orang yang sudah mengerti Ilmu Selamat atau Ilmu Tauhid menurut Allah, tetapi orang tersebut tidak mau melaksanakan atau membuktikan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Good, sehat-sehat selalu
BalasHapus