Sabtu, 04 April 2009

KALAM TANBIH

“Allah Berfirman : “Sesungguhnya semua manusia yang berjanji dengan Muhammad atau Wakil-wakilnya, sesungguhnya ia berjanji dengan Allah”.
Kekuasaan Allah itu melebihi kekuasaan seluruh manusia di alam ini. Maka kamu sekalian janganlah lengah, barang siapa orang yang mengingkari (merusak) janji, penderitaannya akan menimpa pada dirinya sendiri. Adapun barang siapa yang menepati janji, Allah akan memberikan warisan yang agung yaitu ditunjukkan kepada perkara yang belum pernah dilihat sebelumnya, yaitu diperlihatkan ke tempat yang tidak mungkin sampai, yaitu sampai ke “Darul Baqok” desa yang kekal (disebut Darussalam : desa keselamatan yang disebut alam kekal)
Berfikirlah dengan jernih, semua manusia mampu melaksanakannya (besar, kecil, bodoh, pintar mereka mampu melaksanakannya) yaitu dengan selalu benar-benar taat kepada penuntun lahir dan batin, dengan selalu tut wuri handayani terhadap bimbingan dari Guru yang bias membuktikan perintah Allah di dalam Al Qur’an ayat yang pertama tersebut. Mereka itu yang dikaruniai Hudan oleh Allah.
“Allah Berfirman : Hai manusia kamu sekalian janganlah ada keraguan.”
Mengertilah bahwa Allah tidak akan mengingkari janjinya. Barang siapa yang bersungguh-sungguh maka niscaya ia akan berhasil.

Jumat, 03 April 2009

Kewajiban Manusia Sebagai Hamba Allah

Pembaca yang budiman yang memahami tulisan ini, kami mengharap untuk berpikir dengan berhati yang jernih agar kita tidak salah dalam memahami isi dari wacana ini.
Kita ini dijadikan hamba berupa mahluq yang berwujud manusia, tidak seperti hewan. Hewan itu siang dan malam yang dibutuhkan hanyalah makan dan kawin. Jika manusia hanya berfikir seperti hewan sangatlah salah besar, hal tersebut berarti tidak mensukuri nikmat yang telah diberikan Allah kepada hambanya. Jika kita tidak mau mensukuri nikmat Allah, maka Allah akan menjadikan hambanya sebagai yang serendah-rendahnya, perilakunya seperti hewan, siang dan malam yang dibutuhkan hanyal makan dan kawin. pada hal manusia itu diciptakan sebagai mahluq yang paling semperna dari pada makluq-makluq yang lain.
Manusia itu sebenarnya tidak bisa apa-apa. Ia hanya bisa bersukur dan meminta hanya kepada Allah semata. Karena kewajiaban manusia itu sebenarnya hanyalah melaksanakan kewajiban yang telah diperintahkan kepada manusia dengan hati yang iklas dan semata-mata hanya untuk Allah. Sebenernya Allah menciptakan manusia tidak untuk diperintah apa-apa, hanya diperintah untuk menyembah kepada Allah. Tetapi didalam menyembah tidak boleh sembarangan karena Allah pun juga menurunkan aturan-aturan yang pasti yaitu dengan diturunakanya kitab suci. Dengan berpedaman sama kitab suci Insallah kita akan selamat. Tettapi dalam memahami kitab suci kita tidak boleh sembarangan karenan kalau sembarangan kita akan terjerumus dalam jurang yang sangat dalam. Dalam salah satu kitab suci sudah disebutkan bahwa manusia yang belajar agama itu harus punya guru kalau tidak punya guru yang menjadi guru adalah setan.
Dalam menyembah Allah itu harus yakin dengan seyakin-yakinnya. Sampai tidak ada keraguan dalam diri manusi itu sendiri dan tidak akan takut kepada sesama hanya takut kepada Allah semata. Sehingga kita dapat melihat yang sebenarnya. Manusia melihat tidak dengan mata telanjang tetapi dengan hati yang paling jernih.
“Allah berfirman : Wahai manusia pahamilah ! Kamu sekalian menyembah Tuhanmu hingga yaqin.”
Adapun yangh disebut yaqin adalah melihat setelah hilangnya rasa keragu-raguan, hingga melihat yang sebenarnya. Alat untuk melihat itu bakan mata kepala tetapi : “Ainun filqolbi” Mata yang ada dalam hati yang disebut rasa.
“Allah berfirman : Wahai manusia kamu sekalian kembalilah kepada Tuhanmu.” Ketika tertimpa musibah manusia diharap mengucapkan ini. “Innaa lillahi wainnaa ilaihi raaji’uuna.”
“Allah berfirman : Kita ini milik Allah, semua supaya kembali kepada Allah.”
Orang jawa bias menyebutnya ‘Asal – Usul’ maksudnya kita ini bersal dari Allah supaya kembali kepada Allah yang telah menciptakan (Kholiq).
Jika kita berhenti di alam dunia, maka disebut ‘Kawadis’ atau rusak (fana), sesungguhnya seisi alam ini tidak berwujud. Jika manusia berhenti di alam dunia maka ia akan tersesat, nyawanya tidak dapat kembali kepada Allah, akan melayang selama-lamanya, menderita tiada batasnya. Maka marilah kita memperhatikan arti Taat yang seesuai dengan maksud perintah Allah.
“Allah berfirman : Wahai Manusia kamu semua tidak dapat kembali (kepada Allah) jika kamu tidak mau mencari guru.”
” Allah berfirman : Wahai manusia pahamilah ! Barang siapa yang tidak mau mencari Guru maka orang tersebut gurunya setan.”
Barang siapa merasa mendapatkan warisan dari nenek moyang dan hanya mempertahankan pendapatnya sendiri sehingga tidak mau mencari Guru, maka ia sebenarnya benar-benar menawarkan dirinya kepada setan untuk disesatkan. Maka dari itu, marilah kita mentaati perintah Allah untuk mencari Guru. Allah memperkut perintahnya dalam firma ini.
“Allah berfirman : Wahai manusia kamu semua carilah guru , hal itu menjadi kunci selamat didunia hingga di akherat.”
Menurut Allah yang dikehendaki sebagai Guru yaitu salah seorang manusia yang di kehendaki menerangkan ilmu tauhid (didalam Al Qur’an disebut Isim Ghoib)
Allah memberi perintah kepada manusia untuk selalu beribadah baik siang maupun malam tanpa henti.
“Allah berfirman : Wahai manusia pahamilah ! Sesungguhnya ilmu tauhid (Isim Ghoib) wajib di cari, untuk menghilangkan dosa musrik (Karena selalu berzikir Kholiq maksudnya Isim Ghoib). Hal ini penting sekali, perintah untuk mencari Ilmu Tauhid janganlah hanya ditirukan saja, wajib dicari selama masih hidup di dunia.
Jika kita tidak mengingat Kholiq, pasti yang di ingat golongan mahluq (dunia), berarti hukumnya musrik. Karena urusan manusia itu hanya ada dua yaitu mahluq sama Kholiq tinggal kita mau pilih yang mana. Yang dimaksut dengan mahluq adalah semua yang diciptakan Allah yaitu dunia seisinya. Sedangkan yang dimaksud dengan Kholiq adalah Allah. Tinggal manusia itu pilih yang mana antara Yang menciptakan dan yang diciptakan.
“Allah berfirman : Wahai manusia pahamilah ! Barang siapa melakukan dosa musrik (yaitu mengingat pada yang wujud mahluq tidak mengingat pada Kholiq) maka akan trsesat sejauh-jauhnya tanpa batas.”
Marilah ketika kita masih ada waktu belum dikubur di dalam tanah, marilah kita cari Ilmu satu kalimah (yaitu ilmu tauhid, ilmu yang bisa menyelamatkan dunia hingga akherat), dan semua manusia bisa melakukannya baik besar maupun kecil baik pintar maupaun bodoh seluruhnya mempunyai sifat Arroman dan Arrohiim.
Marilah kita mempercayai Firman Allah ini. Ingat pada zaman Nabi Adam ‘alaihi salam yang menjadikan Guru yang pertama. Ada Mahluq mersa dirinya lebih suci dan lebih benar yang bernama Ajajil (ratu malaikat) diperintah oleh Yang Maha Suci (Allah) untuk bersujud, taat pada Nabi Adam Kholifatulloh tidak mau melaksanakan. Atau membangkang merasa dirinya suci. Akibatnya menerima hukuman dari Allah yaitu iblis laknatulloh. Begitu pula seterusnya, barang siapa tidak taat perintah Allah untuk mencari Guru maka hukuman dari Allah yaitu tersesat selama-lamanya. Mari kita semua taat kepada perintah Allah untuk mencari Guru artinya percaya bahwa Guru yang bisa menuntun pada keselamatan nyawa baik di dunia dan di akherat.

MANUSIA YANG MUTTAQIN

Pahamilah ! kita dapat menempati akherat apabila sudah ma’rifat dahulu. Didalam A-Qur’an diterangkan bahwa yang mendapat hudan (petunjuk) menurut firman Allah yaitu orang yang percaya pada maksud Isim Ghoib. Perintah dalam kitab suci Al-qur’an itu harus di buktikan dengan sungguh-sungguh, jangan hanya ditirukan saja.
“Allah Berfirman : Wahai manusia yang mendapat petunjuk yang akan lulus selamat dunia-akherat, itu telah ditentukan pada manusia yang muttaqiin.”
Adapun yang disebut muttaqin yaitu semua manusia yang “YUKMINUNA BIL GHOIBI” percaya pada maksud Isim Ghoib. Untuk mengetahui maksud kalimah isim ghoib, kita semua harus mencari Guru Wasitah. “WABTAGHUU ILAIHI WAASITHOH” Allah Berfiman : Wahai manusia ! berpeganglah yang kuat, yaitu dengan mentaati tingkah lakku dari Guru Wasitah. “WA’TASHIMUU BIHABLILLAAHI JAMII’AA” kedua dengan sungguh-sungguh jangan sampai terlena /terlupa dalam melaksankan perintah Allah. “QUL HU” artinya tetaplah masuknya napas senantiasa diikuti dengan maksud kalimah Hu (maksud kalimah isim ghoib). Orang yang demikian ii disebut selalu muhung tahuhid. Dan sampai nafas terakhir dengan berdzikir maksud kalimah Hu, maka disebut mati “Husnul Khotimah” (Bagus Akhirnya). Jika tidak muhung tauhid/berdzikir Qul Hu tetap mengingat maksud kalimah Hu. Orang yang demikian itu, maka orang itu dinamakan mati “Suuul Khotimah” (Buruk Akhirnya). Jadi yang menjadikan manusia Khusnul Khotimah yaitu kekalnya dzikir maksud kalimah Hu (Isim Ghoib) jangan sampai diingat mahluq (dunia) dinamakan dalam keadaan musrik.
Kesimpulan atau garis pokok dari perintah Allah agar selamat di dunia dan akherat yaitu dengan mentaati perintah Allah di dalam Al-Qur’an ayat yang paling awal :
1. Benar-benar senantiasa tetap Qul Hu berdzikir pada maksud isim ghoib (Hu).
2. Memperbanyak sholat sesuai dengan sholat yang diajarkan Guru Wasitah.
3. Memperbanyak amal soleh.
Marilah dengan sungguh-sungguh dilaksanakan, hal itu merupakan ilmu dan amal menurut Allah yang akan menerima Hudan. Kita tidak boleh ragu-ragu melaksanakan perintah Allah tersebut.

Kamis, 02 April 2009

‘UBUDIYAH YANG SEMPURNA

Wahai manusia pahamilah ! Allah menurunkan kitab yang berjumlah 104 berisi masalah penting (gati) 4 macam ytiu :
1. Syare’at
2. Tarekat
3. Hakekat
4. Ma’rifat.
Adanya merupakan resep didalam memelihara diri kita. Pahaimilah ! ayat dibawwah ini :
1. “ASYSYARI’ATU FILUL JASADI FAQOD” Allah berfirman : Wahai manusia pahamilah ! yang dinamakan syare’at yaitu sahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji merupakan tat cara memelihara jasad saja. Atau peraturan yang wajib melaksanakan adalah jasad.
Orang yang melaksanakan ibadah haji berulang-ulang tetaplah disebut ibadah syare’at. Hal itu memang sudah benar dan sempurna, sesuai dengan perintah Allah yaitu “Manusia Agar Kembali Kepada Allah” karena orang yang melaksanakan haji sudah sampai di Baitullah. Baitullah artinya rumah Allah. Akan tetapi hal itu belumlah tepat, karena didalamnya masih. Yaitu batu hitam. Mengingat pada perintah Allah agar kembali kepada Allah, kita wajib untuk mengetahui Baitullah (rumah Allah) yang sesungguhnya.
Maka pahamilah ! Kiblatnya pada Baitullah masih Hajar Aswad (batu hitam) itu disebut Baitullah Majazi. Rumahnya Allah berarti masih pola (contoh) karena masih hajar aswad/batu hitam.
Yang demikian ini berarti telah sempurna melaksanakan rukun Islam yang lima dan disebut muslimin-muslimat (orang yang melaksanakan Rukun Islam laki-laki dan sempurna.
Karena Baitullah muslimin dan muslimat tadi masih majazi (pola/contoh), maka Allah masih memberikan perintah kepada muslimin dan muslimat seperti ini : “THOLABUL ILMI FARIDLATUN ‘ALAA KULLI MUSLIMIIN WAL MUSLIMAATIN, MINAL MAHDI ILAL LAHDI” Allah memberi perintah bahwa mencari ilmu adalah fardlu bagi orang Islam laki-laki dan orang Islam perempuan, mulai dari ayunan sampai menjelang masuk liang kubur.
Akan tetapi pahamilah ! Alam dan isinya (dunia) juga disebut mahluq akan rusak fana’ (tidak berwujud), adapaun yang berwujud, sebenarnya hanyalah dzat Tuhan (Rabbi). Jadi adanya perintah Allah mencari ilmu adalah fardlu sebenarnya untuk mencari ilmu Tauhid (didalam Al-Qur’an dinamakan ilmu isim ghoib yaitu maksud kalimah Hu yang merupakan sebenarnya Kholiq.
Janganlah lupa pad aperintah Allah, dapatnya mengerti atau mengetahui isim ghoib wajib untuk mencari Guru Wasitah. Jika yukminuuna bilghoibi (precaya pada maksudnya isim ghoib : Hu) apa bila l;aki-laki dinaamakan mukmin laki-laki, apabila perempuan dinamakan mukmi perempuan.
Tempat percaya itu ada di dalam hati. Allah berfirman : “QULBU MUKMININ BAITULLAH” artinya hati orang mukmin adalah rumahnya Allah, yaitu hati tempat membuktikan Rabbi (Tuhan), dzatnya disebut Allah. Maka dari itu Allah dinamakan isim dzat (isim : nama, dzat : wujud) jadi Rabbi itu dzatnya dianamakan Allah. Pahamilah benar-benar !
2. “WATHORIQOTU FI’LUL QULUUB” Allah Berfirman : yanmg dinamakan tharekat adalah tata cara memelihara hati atau perilaku yang wajib melaksanakan adalah Hati dan dinamakan Iman. Tetapi tidak seperti imannya orang awam (umum). Kalau orang awam hanya mengucap bahwa beriman kalau Allah itu ada, tetapi tidak mau mengetahui bagaimana keadaan sebenarnya atau membuktikan bahwa Allah itu ada.
Adapun imannya orang mukmin siang fan malam senantiasa tetap mengingat (dzikir dengan rasa/mengingat di dalam rasa) pada Rabbi “QUL HU “ artinya tetap mengingat dalam rasa maksud kalimah HU (Isim Ghoib).
3. FAN DZAT, sebab sudah tenggelam FI DZATTILLAH artinya raga ini telah merasa atau mengetahui bahwa wujud raga ini tidak ikut memiliki, mengetahui yang memiliki sebenarnya maka dipasrahkannya. Jika sudah demikian, maka sebenarnya manusia itu mempunyai hak sama dan jika semua manusia itu sudah demikian maka akibatnya antara manusia satu dengan yang lainnya senantiasa saling hormat-menghormati. Jika A bertemu B, berarti bertemu di DZATTULLOH. Jika B bertemu A, juga bertemu di DZATTULLOH. Kalau memang benar-benar keadaannya sudah demikian, hanyalah rasa aman dan tentram yang ada.
Allah Berfirman : seperti ayat dibawah ini, pahamilah !
“FAIDZAA ‘ALIMTA WA ‘ALAMTAHAA ‘ASALOOHU ANYA J’ALAKA WAALIYAN MIN AULIYAAIHI WAAMINAN MINAL AHWAALI WALAAFAATI FIDDUNYAA WAL AAKHIROH” Allah Berfirman : Wahai manusia tatkala sudah mengerti pada kesempurnaanmu yaitu berupa syare’at, tarekat, hakekat dan ma’rifat. Hal itu sudah kamu laksanakan (Allah akan menjadikan kamu sekalian menjadi salah satu dari golongan wali yang tidak ada bedanya seperti wali-wali yang terdahulu. Diberi keselamatan, keamanan dalam segala masalah dan segala marbahaya yaitu selamat dunia dan selamat akherat.
Maka marilah dengan sungguh-sungguh kita perhatikan, ingat ! salah sekali saja maka akan salah selama-lamanya. Allah Berfirman : “WA ‘TASHIMUNU BIHABLILLAAHI JAMII’AA” Wahai manusia, perintah Allah ini yang menjadi sebab berhasilnya kembali kepada Allah itu laksanakanlah dengan sungguh-sungguh ! yaitu supaya mancari Guru Wasitah, kemudian taatilah segala perkataannya, perhatikan semua perkatanaannya. Hal itu sudah ketentuan Allah. “RIDLOLLOOHI BIRIDLO WALIDAII” Allah memberi perintah : wahai manusia ! ingatlah janganlah sampai lupa maksud perintah ini buktikanlah. Kamu sekalian diberi keselamatan oleh Alloh, jika kamu semua mau bertindak atau melaksanakan perintah yang menjadi sebab Allah memberikan Ridlo. Allah memberikan RIdlonya dari orang tua karena dari tingkah lakumu yang selalu membuat senang hati orang tua. Adapun yang disebut orang tua menurut Allah itu adalah Guru Wasitah. Maka perhatikan supaya berbuat yang menjadikan senang hatinya Guru Wasitah. Maka bagi yang sudah memahami, wajib mengingatkan dan memberikan pengertin yang belum mengerti untuk diajak selalu takdzim kepada Guru Wasitah artinya senantiasa berbuat yang menjadi hati Guru itu senang.

JIWA SATRIYA YANG SANTRI

Wahai manusia pahamilah ! Ilmu Tauhid yaitu Isim Ghoib bagi Allah itu juga dinamakan Ilmu Satoriyah. Maka seorang satriya disebut santri apabila sudah melaksanakan perintah Allah “YUKMINUNA BIL GHOIBI” yaitu sudah percaya pada maksudnya kalimah Isim Ghoib (HU). Orang yang demikian itu telah melaksanakan perintah tetap mengingat/berdzikir maksudnya kalimah Hu yang dinamakan muhung tauhid/dzikir tauhid.
Jika sudah demikian ini, maka dinamakan Satriya Dunia yang Tanpa Cacat yaitu tanda manusia selamat di dunia dan akherat, dan manuia yang telah melaksanakan jiwa satriya dan dinamakan pula santri.
Adapun sosok seorang satriya segala tindakannya akan dipertimbangakan atau dipikirkan dahulu sebelum melangkah. Wahai manusia pahamilah ! segala perilaku itu berwujud kendaraan berarti ada yang memiliki yaitu salah satu dari hasrat atau kemauan.
Pahamilah ! perintah Allah ini : “ALKHOWAATHIRU KHOMSATU ANWAA ‘IN SYAITHONIYUN NAFSIYUUN ‘AQLIYUUN WAMAALAAKYYUN WA RABBANIYYUN” Adapun jumlah hasrat atau kemauan itu ada lima (5) jenis :
1. Hasrat bangsa setan, yaitu tumbuh pada kemauan yang adanya selalu menjelek-jelekkan, membangkang, tidak mau melaksanakan perintah. Jika terdapat hasrat yang demikian ini janganlah ditaati atau dilakukan, karena hal itu kemauan dari bangsa setan.
2. Hasrat bangsa Nafsu, yaitu tumbuh pada nkemauan yang apabila raganya guna melaksanakan kewajiban muncul rasa malas : harta bendanya untuk melaksanakan/memenuhi kewajiban tumbuh rasa pelit dan senangnya merubah-rubah, mengurangi suatu yang sudah benar. Jika terdapat hasrat yang demikian janganlah diikuti, hal itu tumbuh dari nafsu, buahnya menyesal pada akhirnya.
3. Hasrat bangsa akal, adapun hasrat bangsa akal itu mempunyai dua wajah yaitu jika buruk diakal maka akan hilang buruknya yang ada tinggal baiknya. Akan tetapi jika sudah bagus/baik di akal maka yang ada tinggal buruknya karena yang baik tadi hilang. Oleh karena itu, jika sudah baik, maka kita wajib untuk selalu rajin dalam mujahadah artinya senantiasa tetap memerangi pada kemauan nafsu. Pelaksanaannya janganlah lengah didalam dzikir, tetap berdzikir tauhid, dan memperbanyak sholat serta memperbanyak perbuatan amal sholeh.
4. Hasrat bangsa malaikat yaitu tumbuh pada hasrat dimana bila menerima perintah dari Allah, dirinya merasa mendapat rahmat dan adanya hanya merasa senang dan rela. Melaksanakan perintah atau kewajiban oleh raga maupun harta benda adanya hanya senang dan rela disebut ikhlas dengan sungguh-sungguh. Sikap yang demikian ini merupakan sikapnya orang-orang sudah mampu “FAN AF’AL dan “FAN SIFAT”.
5. Hasrat bangsa Tuhan (Robbi), yaitu tumbuh pada hasrat dimana didalam rasa yang ada hanyalah Tuhan (Robbi) dzatnya dinamakan Allah. Apapun yang ada semua naïf, tidak berwujud. Yang demikian ini merupakan sikap orang-orang yang mampu FAN DZAT. Tidak lain mari kuncinya kita pegang dengan benar senantiasa tut wuri handayani, taat kepada perintah Allah yaitu pada tingkah lahir dan batinnya Guru Wasitah, sesuai ilnu dan amal, sesuai Al Qur’an yang paling awal (ayat yang paling awal).
Adapun seorang satriya ahli haq itu menurut Allah mempunyai kewajiban terhadap masyarakat, pahamilah ! firman Allah ini : “TA’AWANUU ‘ALAL BIRI WATTAQAWA WALAA TA’AAWANUU ‘ALAL ITSMI WAL’UDWAANI” Allah Berfirman : Wahai manusia kamu semua bersatu paulah untuk berbuat kebagusan. Dan selalu berbuat pada jalan agar dapat kembali kepada Allah. Janganlah sekali-kali bersatu-padu guna berbuat dosa kearah kesesatan yang membuat kekacauan di masyarakat. Karena hal itu merupakan pelilakunya nafsu, dimana nafsu itu menjadi kendaraannya setan yang selalu berbuat kerusakan : “ANNAFSU HISBUSY-SYAITHOON” Allah memberikan perintah di dalam Al Qur’an seperti ini, maka pahamilah dengan benar-benar!
“WAL ‘ASRI”. Demi Masa tatkala menghadapi mati.
“INNAL INGSAANA LAFII KHUSRIN”. Sesungguhnya setiap manusia didalam alam kerugian.
“ILLAL LADZIINA AAMANUU (bil ghoibi). Adapun yang tidak merugi (artinya selamat) adalah manusia yang percaya kepada maksud kalimah isim ghoib (Kalimah Hu).
“WA ‘AAMILUSH SHOOLIHAATI”. Dan orang yang mau memperbanyak perbuatan kebaikan (amal soleh) dengan senantiasa kerdzikir qul Hu, dalam keadaan apapun disebut muhung tauhid.
“WATAWAASHOUBIL HAQQI”. Dan senantiasa mau mengajak terhadap siapa saja, untuk mencari Ilmu Tauhid (isim ghoib/ilmu selamat dunia akherat).
“WATAASHOUBISHOBRI”. Dan senantiasa mau mengajak untuk tahan ujian, sabar didalam melaksanakan 3 perintah diatas, sampai menjelang ajal datang.
Allah memberi perintah didalam kitab Al-Qur’an, maka buktikanlah !
“WALTAKUM MINGKUM UMMATU YAD’UUMA ILIL KHOIRI WAYAK MURUUNA BIL MA’RUUFI WAYANHAUNA ‘ANIL MUNKARI WAULAAIKA HUMUL MUFLIHUUN”.
Allah Berfirman : Wahai manusia kamu semua hendaknya mau megajak pada perbuatan kebaikan, yaitu senantiasa tetap kekal dalam Qul Hu. Orang-orang yang mau mengajak menuju kejalan keselamatan yaitu ke jalan agar untuk dapat kemabali kepada Allah, termasuk orang-orang yang beruntung. Marilah kita betul-betul melaksanakan perintah tersebut yang gunanya :
1. Untuk mengingatkan diri sendiri.
2. Untuk mengingatkan masyarakat jika sudah memahami.
Akhirnya masyarakat akan aman dan tentram, karena mendapat sahwab barokah dari hasil kita kekal dalam berzikir Qul Hu. Kesimpulan atau garis pokok dari sikap seorang satriya yang santri yaitu :
1. berfikir dahulu sebelum melangkah, hasrat apa yang menaikinya, apakah setan, nafsu, akal, malaikat atau Rabbi.
2. Menunaikan kewajiban terhadap masyarakat yaitu mau mengajak kejalan yang dapat kembali kepada Allah.
Mari kita laksanakan dengan sungguh-sungguh, jangan ragu-ragu !

WUJUD HATI MANUSIA DAN HATI ORANG MUKMIN RUMAH ALLAH

Wahai manusia, pahamilah ! perintah Allah ini :
FA’LAM FALQOLBU QOLBANI QOLBUSH SHONUUBARI DZULMANIYUN WAL QOLBU MA’NA WIYYU NUURAIYYUN”. Allah Brfirman : Wahai manusia kamu semua mengertilah ! wujud hati manusia itu ada dua :
1. Hati sanubari, sifatnya gelap merupakan kerajaan nafsu, yang menjadi anak buahnya setan. Semua manusia, pahamilah : “’ALAMU NAFSI DHULMATUN MAHDHUUN” Alamnya nafsu satu saja melebihi gelapnya di dunia ini, jika nafsu tujuh itu dilakukan semua berarti bertempat di kegelapan disebut tersesat dalam gelap tujuh hari tujuh malam. Jika bertindak demikian berarti hanya menuruti senangnya sendiri, berarti tidak mentaati perintah Allah dan tidak taat kepada perintahnya pemerintahan (peraturan pemerintah). Jika demikian ini, untuk menghilangkannya hanyalah ilmu tauhid. Misalnya gelap, guna menghilangkan kegelapan hanya tauhid, yang terangnya ilmu tauhid itu melebihi terangnya di siang hari.
2. Hati ma’nawi, yang sifat keadaannya terang bertempat di tengah-tengah dada diatas tali pusar yaitu hati tempat YUK Minuuna Bil Ghoibi, percaya pada maksud kalimah isim ghoib (Hu). Disebut oleh Allah : qol bul mukminin baitullah yaitu hatinya orang mukmin adalah rumahnya Allah. Jika sudah mengerti, maka senantiasa mengekalkan qul HU.
Dan kamu sekalian mengertilah ! : bahwa semua manusia yang percaya pada maksud isim ghoib (Hu).
“YUKMINUUNA BILGHOIBI”. Jika orang laki-laki percaya pada maksud isim ghoib dinamakan mukmin laki-laki. Jika seorang perempuan yang percaya pada maksud isim ghoib dinamakan mukmin perempuan. Adapun jika tidak percaya maka disebut muslimin dan muslimat begitu saja. Tetapi jika seoarang mukmin pasti muslim, sebaliknya seorang muslim belum tentu kalau mukmin. Allah Berfirman : “QOLBUL MUKMINIINA BAITULLAH”. Allah berkata bahwa hatinya orang mukmin itu rumahnya Allah, artinya hati tempat membuktikan adanya Tuhan. Dzat tuhan (Rabbi) namanya Allah, maka Allah disebut Isim Dzat (isim artinya nama dan dzat artinya wujud (‘gleger= jawa). Adapun yang memiliki wujud gleger itu Tuhan (Rabbi) yaitu maksudnya Isim Ghoib. Allah Berfirman didalam Al-Qur’an : “INNALLOHA MA’AANAA AINAMAA KUNTA”. Allah memberikan perintah bahwa Allah itu bersatu tempat dengan Rasa kamu, dimana saja kamu berada, tetapi bukan beradanya badan ini. Tetapi sebenarnya kekalnya masuk nafas disertai Qul Hu berarti kekal nafas selalu disertai maksud kalimah Hu, disubut kekal dalam muhung tauhid (yang diingat hanya dzat wajibul wujud/dzat yang sebenarnya wujud). Firman Allah yang demikian ini, Sayyidina Ali berkata pada Rasulullah : Ya Rasulullah ! Sebenarnya bersatunya Rabbi dengan Rasa manusia itu apapkah seperti sesuatu barang dengan suatu barang ? misalnya air minum dengan gelas ? “LA LA KAMA ‘IYATISYSYAII FISYSYAII” Rasulullah brjata kepada Sayidina Ali : Yaa Ali, mengertilah sesungguhnya bersatunya Tuhan (Rabbi) dengan Rasa manusia itu, tidaklah hanya seperti bersatunya sesuatu dengan sesuatunya misalnya air minum dan gelas, tidaklah demikian. Jika dimisalkan bersatunya air minum dan gelas, maka kalau gelas itu dalam keadaan berdiri : bersatu. Akan tetapi jika gelas dimiringkan maka akan tumpah atau berpisah. Jadi tidak hanya demikian ini.
Kalau begitu bagaimana Rasulullah, sesungguhnya bersatunya Tuhan (Rabbi) dengan Rasa manusia itu? “QOOLA RASUULULLOOHI” Yaa “Ali BAL MA’IYATUHU KASHSHIFATI FIL MAUSHUUFI” Rasulullah berkata kepada Sayyidina Ali : sesungguhnya bersatunya Rabbi dengan Rasa manusia itu seperti sifat didalam musuf, misalnya kertas putih itu disebut sifat, adapun yang ditempati warna putih itu disebut musuf. Walaupun dihancurkan sebesar rambut dibelah menjadi tujuh. Sifatnya tidak akan lepas dari mausuf. Begitu sesungguhnya bersatunya Tuhan (Rabbi) dengan Rasa Manusia. Tuhan Allah memperkuat perintah : “INNAALLOOHI ‘ALAA KULLI SYAIIN MUHIITHIN”. Allah Berkata : Sesungguhnya Allah itu meliputi seluruh/segala sesuatu. Maka pahamilah, jika Rasa manusia itu senantiasa disertai maksud kalimah isim ghoib, hal itu seperti sifat didalam mausuf. Jika belum demikian ini, masih dalam keadaan menguatirkan. Maka wajibnya harus semakin serius dalam mengekalkan Qul Hu.
KEWAJIBAN MANCARI GURU WASITAH
Siapakah Guru Wasitah itu ? Dan apa syarat yang harus dimiliki oleh Guru Wasitah ?
YANG PERTAMA : Guru Wasitah adalah salah seorang manusia yang dirinya dipilih oleh Allah untuk menerangkan ilmu tauhid (maksud kalimah isim ghoib/Hu). Allah memberi perintah :
“UTHLUBUU SYAIKHOL WASITHOTA FAHUWABAYYANA ‘ILMA TAUHIDI WAINNAL KABAAROL ‘ULAMAAI WALAU BAINAKA WABAINAHU BAHRUN AU JIBAALUN NAARI MATHLUBUN”. Allah memberikan perintah bahwa : Wahai manusia, kamu semua carilah Guru Wasitah sampai bertemu, yang menjadi kunci keselamatan di dunia dan keselamatan di akherat. Bagi Allah yang dikehendaki menjadi Guru Wasitah adalah salah untuk menerangkan yang diberi wewenang untuk menerangkan ilmu tauhid (didalam disebut isim ghoib yaitu maksudnya kalimah Hu). Adapun mencari Guru Wasitah, walaupun Ulama Besar juga wajjib mencari Guru Wasitah, walaupun tempatnya Guru Wasitah dengan kita dipisahkan oleh gunung api, tetaplah wajib untuk dicari.
YANG KEDUA : Guru Wasitah yang wajib dicari, diberi oleh Allah martabat empat macam :
1. Mursidin Yaitu ilmunya tentang Islam tatas dan tuntas syare’at, toriqot, hakekat dan ma’rifat.
2. Murbihin yaitu senantiasa kekal dzikirnya atau tetap muhung tauhid atau Qul Hu.
3. Nasihin yaitu senantiasa yang dikatakan bagaimana nyawa manusia itu dapatnya selamat di dunia dan akherat.
4. Kamilin yaitu sempurna yang dituju yang disebut kembali kepada Rabbi (Kholiq) yang dinamakan isim ghoib/maksud kalimah Hu.
YANG KETIGA : Berpedoman kepada Al-Qur’an Hadist ilma’ dan qiyas. Terdapat nasehat para Ahli Winasis (‘Alim Ulama) di tanah Jawa yang berwujud Kidung (Tembang), yaitu :
Irone Qur’an mengku rasa jati
Nanging pilihta ingkang wuninga
Kejobo ngalap pituduhe wong kang mangerti
Ora kena den awur
Temahane sasar susur ora pinanggih
Lamun sira pingin mangerti ing
Sampurnane badan ira
Punika sira angge gurua
Lamun angge guru sira kaki
Milija manungsa ingkang nyato
Ing becik martabate]kang ngibadah ahli wirang
Sukur ahli topo kang anungkul tan milik ing pawewehe liyan
Sartane kawruhono
Kaweruhana dununge wong urip iki
Benjeng lamun yen palastra
Kesumo nyandi parane
Maka segeralah kita mencari Guru Wasitah. Allah memberi perintah bahwa mencari Guru Wasitah itu, menjadi gantinya Allah menuntun pada keselamatan segenap nyawa. Guru Wasitah itu sebenarnya wakil, adapun wakil itu sama artinya muwakil. Firman Allah didalam Al-Qur’an : Artinya Sesungguhnya semua manusia yang berjanji dengan Muhammad (atau wakil-wakilnya) sebenarnya yaitu Guru Wasitah, itu sesungguhnya berjanji dengan Allah, kekuasaan Allah melebihi kekuasaan semua manusia di dunia ini. Maka kamu sekalian janganlah lengah, barang siapa orang yang mengingkari (merusak) janji, maka penderitaannya akan menimpa pada diriny sandiri. Adapun barang siapa yang menepati janji Tuhan akan memberikan Warisan yang agung, yaitu ditujukan kepada sesuatunya yang belum pernah dilihat sebelumnya, yaitu ma’rifat kepada Allah dan sampai ke darul Baqo’ Darussalam : desa keselamatan juga dinamakan alam yang kekal.
Guru Wasitah pertama yaitu Nabi Adam AS. Dinakaman adam Cholifahtullah yang diberikan wewenang menuntun ilmu dan amal agar manusia lulus selamat didunia sampai di akherat. Yang menuntun manusia untuk kembali kepada Allah. Di dunia ini berasal dari Allah agar kembali lagi kepada kepada Allah. Di dunia ini manusia itu ibarat mengemara, dan sudah pasti akhirnya akan pulang lagi. “FA’LAM KAANNAKA FIDDUNYAA KALGHOORIBI SYAABILI AU KALGHOODI” Allah Berkata . wahai manusia pahamilah : kamu semua diduania ini, seperti orang yang mengembara dan sudah selayaknya akan kembali. Kembali pada asal kamu. Kalau berasal dari Allah maka agar kembali kepada Allah lagi. Allah memerintahkan kepada manusia untuk mencari Guru Wasitah, hal itu peraturan Allah, maka taatilah !
Jika sudah mengerti, akan tetapi tidak mau melaksanakan pengertiannya tadi (mengerti kalau Guru Wasitah itu wakil Allah yang sebenarnya manusia untuk kembali kepada Allah), maka menjadi golongan orang-orang yang celaka. Allah Berkata : “ASYADDUNNAASI YAUMALQIYAAMATI ‘AALIMUN LAM YANFA’UHU ‘ILMUHU. Allah berkata bahwa seberat-beratnya siksaan kepada manusia di hari qiamat, yaitu kepada orang yang sudah mengerti Ilmu Selamat atau Ilmu Tauhid menurut Allah, tetapi orang tersebut tidak mau melaksanakan atau membuktikan.

SYARE’AT DAN HAQEQAT

Maksudnya didlaam ayat ini pahamilah, yang benar dalam memahaminya maka ingatlah !
“ASYARE’ATU BILAA HAQIQOTIN ‘AATHILAH” Allah berkata : Wahai manusia pahamilah ! Yang apabila hanya syare’at saja yang dilaksanakan walaupun sudah sempurna hal itu hukumnya seperti tempat (wadah) tanpa isi bearti kosong. Dapat diterangkan disini, bahwa orang yang melaksanakan ibadah haji berarti telah sempurna melaksanakan syare’at islam yaitu Rukun Islam yang lima dan sudah sampai di Baitulloh. Akan tetapi belumlah Baitulloh yang sebenarnnya (rumah Allah yang sebenarnya) karena didalamnnya masih hajar aswad (batu hitam), maka disebut kilatnya masih Majazi. Wajibnya haris mengerti Baitulloh yang sebenarnya (Baitulloh Haqiqi). Bagaimana jika seseorang sudah membuktikan Baitulloh Haqiqi akan tetapi tidak mau melaksanakan syare’at Islam ? pahamilah ayat berikut ini : “WAL HAQIQOTI BILAA AYARII’ATIN BAATILAH”. Wahai manusia, kamu sekalian pahamilah ! jika hanya melaksanakan pada hakekat saja hanya melaksanakan dan membuktikan yang disebut Baitulloh, tetapi tidak mau melaksanakan hokum syare’at tanpa tempat (wadah) jadi tersebar kemana-mana.
Bagi yang mampunyai tujuan, tujuannya sudah tahu tetapi menolak melewati jalan yang menuju tempat yang dituju, jadi tidaklah mungkin akan sampai tujuan. Jadi jika syare’at saja, hukumnya bagaikan orang yang berjalan terus tanpa tujuan yang pasti, buktinya Kiblatnya masih Kiblat Baitulloh majazi (pola/contoh), jadi masih keliru. Sebaliknya mengetahui tempat tujuan yang pasti, tetapi menolak untuk melewati jalan, itupun salah tidak akan bertemu atau sampai yang dituju. Maka bagaimana, seharusnya? “FALAA BUDA MUTAZIMAINI BAINAHUMAA”. Allah berkata : Wahai manusia, pahamilah ! kita semua wajib mengumpulkan antara wadah dan isi. Yaitu melaksanakan peraturan syare’at dan melaksanakan peraturan hakekat.
“IQBALUNNAASI ‘ALALMARIIDI QOBLA KAMAALIHI TSAMMUN QOOTILUUN”.
Allah Memerintah : Wahai manusia pahamilah ! taatnya manusia pada jalan menuju kepada Allah, jika belumlah sempurna maka berhenti, hukumnya seperti racun yang membunuh.