Kamis, 02 April 2009

JIWA SATRIYA YANG SANTRI

Wahai manusia pahamilah ! Ilmu Tauhid yaitu Isim Ghoib bagi Allah itu juga dinamakan Ilmu Satoriyah. Maka seorang satriya disebut santri apabila sudah melaksanakan perintah Allah “YUKMINUNA BIL GHOIBI” yaitu sudah percaya pada maksudnya kalimah Isim Ghoib (HU). Orang yang demikian itu telah melaksanakan perintah tetap mengingat/berdzikir maksudnya kalimah Hu yang dinamakan muhung tauhid/dzikir tauhid.
Jika sudah demikian ini, maka dinamakan Satriya Dunia yang Tanpa Cacat yaitu tanda manusia selamat di dunia dan akherat, dan manuia yang telah melaksanakan jiwa satriya dan dinamakan pula santri.
Adapun sosok seorang satriya segala tindakannya akan dipertimbangakan atau dipikirkan dahulu sebelum melangkah. Wahai manusia pahamilah ! segala perilaku itu berwujud kendaraan berarti ada yang memiliki yaitu salah satu dari hasrat atau kemauan.
Pahamilah ! perintah Allah ini : “ALKHOWAATHIRU KHOMSATU ANWAA ‘IN SYAITHONIYUN NAFSIYUUN ‘AQLIYUUN WAMAALAAKYYUN WA RABBANIYYUN” Adapun jumlah hasrat atau kemauan itu ada lima (5) jenis :
1. Hasrat bangsa setan, yaitu tumbuh pada kemauan yang adanya selalu menjelek-jelekkan, membangkang, tidak mau melaksanakan perintah. Jika terdapat hasrat yang demikian ini janganlah ditaati atau dilakukan, karena hal itu kemauan dari bangsa setan.
2. Hasrat bangsa Nafsu, yaitu tumbuh pada nkemauan yang apabila raganya guna melaksanakan kewajiban muncul rasa malas : harta bendanya untuk melaksanakan/memenuhi kewajiban tumbuh rasa pelit dan senangnya merubah-rubah, mengurangi suatu yang sudah benar. Jika terdapat hasrat yang demikian janganlah diikuti, hal itu tumbuh dari nafsu, buahnya menyesal pada akhirnya.
3. Hasrat bangsa akal, adapun hasrat bangsa akal itu mempunyai dua wajah yaitu jika buruk diakal maka akan hilang buruknya yang ada tinggal baiknya. Akan tetapi jika sudah bagus/baik di akal maka yang ada tinggal buruknya karena yang baik tadi hilang. Oleh karena itu, jika sudah baik, maka kita wajib untuk selalu rajin dalam mujahadah artinya senantiasa tetap memerangi pada kemauan nafsu. Pelaksanaannya janganlah lengah didalam dzikir, tetap berdzikir tauhid, dan memperbanyak sholat serta memperbanyak perbuatan amal sholeh.
4. Hasrat bangsa malaikat yaitu tumbuh pada hasrat dimana bila menerima perintah dari Allah, dirinya merasa mendapat rahmat dan adanya hanya merasa senang dan rela. Melaksanakan perintah atau kewajiban oleh raga maupun harta benda adanya hanya senang dan rela disebut ikhlas dengan sungguh-sungguh. Sikap yang demikian ini merupakan sikapnya orang-orang sudah mampu “FAN AF’AL dan “FAN SIFAT”.
5. Hasrat bangsa Tuhan (Robbi), yaitu tumbuh pada hasrat dimana didalam rasa yang ada hanyalah Tuhan (Robbi) dzatnya dinamakan Allah. Apapun yang ada semua naïf, tidak berwujud. Yang demikian ini merupakan sikap orang-orang yang mampu FAN DZAT. Tidak lain mari kuncinya kita pegang dengan benar senantiasa tut wuri handayani, taat kepada perintah Allah yaitu pada tingkah lahir dan batinnya Guru Wasitah, sesuai ilnu dan amal, sesuai Al Qur’an yang paling awal (ayat yang paling awal).
Adapun seorang satriya ahli haq itu menurut Allah mempunyai kewajiban terhadap masyarakat, pahamilah ! firman Allah ini : “TA’AWANUU ‘ALAL BIRI WATTAQAWA WALAA TA’AAWANUU ‘ALAL ITSMI WAL’UDWAANI” Allah Berfirman : Wahai manusia kamu semua bersatu paulah untuk berbuat kebagusan. Dan selalu berbuat pada jalan agar dapat kembali kepada Allah. Janganlah sekali-kali bersatu-padu guna berbuat dosa kearah kesesatan yang membuat kekacauan di masyarakat. Karena hal itu merupakan pelilakunya nafsu, dimana nafsu itu menjadi kendaraannya setan yang selalu berbuat kerusakan : “ANNAFSU HISBUSY-SYAITHOON” Allah memberikan perintah di dalam Al Qur’an seperti ini, maka pahamilah dengan benar-benar!
“WAL ‘ASRI”. Demi Masa tatkala menghadapi mati.
“INNAL INGSAANA LAFII KHUSRIN”. Sesungguhnya setiap manusia didalam alam kerugian.
“ILLAL LADZIINA AAMANUU (bil ghoibi). Adapun yang tidak merugi (artinya selamat) adalah manusia yang percaya kepada maksud kalimah isim ghoib (Kalimah Hu).
“WA ‘AAMILUSH SHOOLIHAATI”. Dan orang yang mau memperbanyak perbuatan kebaikan (amal soleh) dengan senantiasa kerdzikir qul Hu, dalam keadaan apapun disebut muhung tauhid.
“WATAWAASHOUBIL HAQQI”. Dan senantiasa mau mengajak terhadap siapa saja, untuk mencari Ilmu Tauhid (isim ghoib/ilmu selamat dunia akherat).
“WATAASHOUBISHOBRI”. Dan senantiasa mau mengajak untuk tahan ujian, sabar didalam melaksanakan 3 perintah diatas, sampai menjelang ajal datang.
Allah memberi perintah didalam kitab Al-Qur’an, maka buktikanlah !
“WALTAKUM MINGKUM UMMATU YAD’UUMA ILIL KHOIRI WAYAK MURUUNA BIL MA’RUUFI WAYANHAUNA ‘ANIL MUNKARI WAULAAIKA HUMUL MUFLIHUUN”.
Allah Berfirman : Wahai manusia kamu semua hendaknya mau megajak pada perbuatan kebaikan, yaitu senantiasa tetap kekal dalam Qul Hu. Orang-orang yang mau mengajak menuju kejalan keselamatan yaitu ke jalan agar untuk dapat kemabali kepada Allah, termasuk orang-orang yang beruntung. Marilah kita betul-betul melaksanakan perintah tersebut yang gunanya :
1. Untuk mengingatkan diri sendiri.
2. Untuk mengingatkan masyarakat jika sudah memahami.
Akhirnya masyarakat akan aman dan tentram, karena mendapat sahwab barokah dari hasil kita kekal dalam berzikir Qul Hu. Kesimpulan atau garis pokok dari sikap seorang satriya yang santri yaitu :
1. berfikir dahulu sebelum melangkah, hasrat apa yang menaikinya, apakah setan, nafsu, akal, malaikat atau Rabbi.
2. Menunaikan kewajiban terhadap masyarakat yaitu mau mengajak kejalan yang dapat kembali kepada Allah.
Mari kita laksanakan dengan sungguh-sungguh, jangan ragu-ragu !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar